Penjualan obligasi ritel pemerintah sukses
Pemerintah mencatat keberhasilan dalam penjualan obligasi riteil yang keenam. Pemerintah berhasil menarik minat lebih dua kali lipat yang ditargetkan di awal yaitu Rp3,6 triliun. Keberhasilan ini menandakan mulai pulihnya kepercayaan investor.
Permintaan yang tinggi dari investor, yang dipicu oleh suku bunga 9,35% dari obligasi 3 tahun, berhasil menarik dana sebesar Rp6,32 triliun pada hari Rabu, dua hari sebelum penutupan pemesanan.
“Beberapa agen penjual bahkan meminta penambahan batasan target dan hal tersebut disetujui,” kata Bhimantara Widyadjala, direktur pengelolaan hutang Departemen Keuangan pada hari Kamis lalu. Bhimantara menambahkan bahwa Menteri Keuangan akan memutuskan berapa jumlah yang akan diterima oleh pemerintah.
Pemerintah menjual obligasi untuk terakhir kalinya pada bulan September 2008 dan hanya mendapatkan Rp2,71 triliun, lebih rendah dari yang ditargetkan.
Hasil survey yang dilakukan oleh BI, yang melibatkan 4600 rumah tangga di 18 kota di Indonesia menunjukkan Indeks Kepercayaan Konsumen juga mencapai posisi tertinggi dalam 5 tahun terakhir pada bulan Juli lalu.
"Pemilu Presiden yang berjalan dengan lancar memberikan respon positif terhadap kondisi perekonomian,” kata BI.
Survey tersebut menunjukkan bahwa indeks kepercayaan konsumen di bulan Juli naik ke posisi 115, 4 dari 109,1 di bulan Juni. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak bulan desember 2004 saat indeks mencapai 119,1. Angka diatas 100 menunjukkan tingkat optimisme.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah akan menawarkan obligasi global senilai $3 milyar, $1 milyar dalam bentuk surat hutang skala menengah dan sisanya dalam bentuk sukuk internasional dan obligasi Samurai tahun depan, untuk menutupi defisit anggaran negara.
Antusiasme terhadap obligasi ritel didukung oleh keputusan BI untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,50%.
"Bank
"Dalam konteks ini, kebijakan moneter akan diarahkan untuk mengantisipasi kenaikan inflasi untuk menjaga inflasi pada posisi 5% di tahun 2010.”
BI telah melakukan penurunan suku bunga acuan sebesar 300 basis poin sejak bulan Desember lalu untuk menjaga perekonomian.
Inflasi tahunan, yang dihitung dari index harga konsumen menurun menjadi 2,71% di bulan Juli dari 3,65% di bulan Juni.
Meskipun perekonomian dalam negeri diperkirakan akan terus tumbuh tahun ini, namun pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini akan melambat menjadi 4% hingga 4,5% dari 6,1% tahun lalu.
BI pada hari Rabu memperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini akan mencapai batas atas dari kisaran 3,5%-4%.
Indikator:
|
|
Mei |
Juni |
Juni 09/ Juni 08 |
Kumulatif 2009 |
|
Total ekspor |
$9,26 milyar |
$9,33 milyar |
-27,21% |
$58,54 milyar |
|
Ekspor non migas |
$8,16 milyar |
$7,88 milyar |
-19,81% |
$42,94 milyar |
|
|
Juni (y-o-y) |
Juni (m-o-m) |
Juli (y-o-y) |
Juli (m-o-m) |
|
Inflasi |
3,65% |
0,11% |
2,71% |
0,45% |
|
|
2006 |
2007 |
2008 |
Kuartal I/ 2009 |
|
Pertumbuhan PDB |
5,5% |
6,3% |
6,1% |
4,4% |
|
Kedatangan Turis |
Mei |
Juni |
Naik/Turun (m-o-m) |
Naik/turun (y-o-y) |
|
|
521.747 |
550.582 |
5,53% |
4.07% |
Sumber: Badan Pusat Statistik


